Melayarkan Buku

Melayarkan Buku” demikian status Muhammad Ridwan Alimuddin di media sosialnya. Seorang penggiat literasi dan peniliti maritim, sekaligus sebagai founder Nusa Pustaka yang berlokasi di Pambusuang, Kec. Balanipa Kab. Polewali Mandar.

Dengan latar perahu “Pandewakang” yang gagah, kuat dan mempesona, melambangkan kejayaan maritim nusantara, khususnya suku Bugis Makassar, yang sementara melakukan pelayaran bersejarah ke pesisir Australia. Sebagai “penggiat literasi” dalam pelayarannya tidak lupa mengikutkan bahan bacaan untuk dibuatkan “lapak baca” bagi anak-anak pulau yang akan disinggahi. Seperti yang dilakukan saat singgah di Flores Timur, NTT, menggelar “lapak buku” di Wai Wuring Pulau Adonara. Setelah sebelumnya juga membuka “lapak baca” di Larantuka Flores Timur NTT, bekerjasama dengan komunitas literasi setempat.

Lapak Buku di Wai Wuring Flores Timur NTT (Sumber: Dokumentasi Ridwan Alimuddin)

Lapak Buku di Wai Wuring Flores Timur NTT (Sumber: Dokumentasi Ridwan Alimuddin)

“Sejatinya, membaca adalah esensi kegiatan #EkspedisiPadewakang. Pelayaran ini membaca masa lampau, membaca sejarah dan kebudayaan bahari, membaca memori yang masih tersisa, dan kepada adik-adik di pulau kecil yang dilewati pelayaran, memberikan bahan bacaan,” demikian status saya di postingan Instagram dan Facebook, saat mengunggah kegiatan lapak baca kedua yang dilaksanakan di Wai Wuring, P. Adonara, Flores Timur, NTT (sumber : Numpang Perahu Padewakang Melayarkan Buku).

Masih bertempat di Flores Timur NTT, kru Ekspedisi Pandewakang kembali membuka “lapak buku”  di Desa Ilu Pulau Pentar.

Lapak Buku di Desa Ile P. Pentar (Sumber : Dokumentasi Ridwan Alimuddin)

Selain kegiatan membaca buku, kegiatan menarik lainnya yang dilakukan oleh kru Pandewakang seperti yang dituliskan oleh Ridwan Alimuddin di pustakabergerak.id tanggal 8 Januari 2020 adalah “Membaca Pandewakang” dengan menggambar.

Dilaksanakan di Desa Bara Nusa (hanya berjarak beberapa puluh meter dari titik lapak di Desa Ile), di dermaga kapal feri merapat yang tidak terpakai. Kami bagikan kertas menggambar dan pensil warna ke 15 adik-adik yang berpartisipasi. Sepertinya mereka tidak pernah ada pengalaman intens menggambar. Sebagian besar dari mereka lama baru bisa menggoreskan pensil warnanya. Oh iya, kami meminta untuk menggambar perahu padewakang. Karena ada yang sulit menggambar padewakang yang memang rumit, “grade”-nya diturunkan, gambar sampan saja. Tetap kesulitan. Meski demikian, ada yang berhasil menggambar. Gambar-gambar mereka unik, mengingatkan gambar atau motif padewakang yang pernah dibuat oleh orang-orang Aborigin di Australia Utara di gerabah, kulit kayu, dan tebing batu. Demikian uraian Ridwan Alimuddin dalam tulisannya (sumber : Numpang Perahu Pandewakang Melayarkan Buku).

Menggambar Perahu Pandewakang (Sumber : Dokumetasi Ridwan Alimuddin)

Selain membuka “lapak buku”, dalam perjalanannya, pelayaran Pandewakang juga membagikan buku-buku terhadap anak-anak pulau yang masuk dalam rute persinggahan dan komunitas literasi setempat.

Donasi Buku (Sumber : Dokumentasi Ridwan Alimuddin)

Catatan :

  • Tulisan juga bisa dibaca di pustakabergerak.id
  • Semua dokumentasi adalah dokumentasi pribadi Muhammad Ridwan Alimuddin (diambil dari media sosial)
Jumlah Kunjungan:387 Jumlah Kunjungan: 1 Jumlah Kunjungan: 126618

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *