Pemetaan Jenis Vokasi PKW Sulawesi Barat

Mamuju (9/1/2019), Program Pendidikan Kecakapan Kewirausahaan atau disingkat (PKW) merupakan layanan kursus bagi pemuda usia produktif dan menganggur dengan orientasi berwirausaha mandiri. Program tersebut pada umumnya diselenggarakan oleh satuan pendidikan masyarakat, seperti: LKP, PKBM dan SKB serta lembaga pendidikan yang memiliki pengalaman menyelenggarakan kursus. Alur program PKW diawali dengan kegiatan identifikasi peluang usaha. Namun dalam praktiknya, sebagian besar pengelola satuan penyelenggara kurang cakap dalam melakukan identifikasi peluang usaha yang marketable. Selain tidak cakap, juga tidak memiliki naluri atau intuisi bisnis yang kuat, sehingga jenis keterampilan atau vokasi yan

g diusulkan kepada tim penilai program PKW acapkali ditolak. Kendatipun diterima oleh tim penilai, bukan karena keterampilan yang diusulkan memiliki peluang usaha yang bagus, namun sudah tidak ada yang lain. Kondisi seperti ini, tentunya ku

rang baik, karena tujuan program PKW tidak tercapai yakni memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap mental berwirausaha bagi pemuda usia produktif dan menganggur, sehingga dapat merintis usaha mandiri.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka ada beberapa jenis vokasi yang memiliki peluang usaha yang marketable berdasarkan pengamatan dan analisa penulis yang cocok di Sulawesi Barat, diantaranya:

  1. Roasting kopi biji. Peluangnya adalah usaha warung kopi sedang bertumbuh pesat dan tentunya membutuhkan biji kopi, bukan kopi bubuk sebagaimana telah diproduksi oleh masyarakat. Lokasi yang cocok di Kab. Mamasa.
  2. Kopi Instan. Peluangnya, sebagian besar orang meminum kopi keinginannya secara praktis, misalnya ketika bepergian atau di kantor, tidak mau repot membuat kopi yang harus campur dengan gula. Lokasi yang cocok di Kab. Mamasa atau sekitarnya
  3. Parfum mobil kopi. Peluangnya: jumlah kendaraan mobil makin hari makin bertambah, dan sebagian besar pemilik mobil membutuhkan parfum mobil, dengan aroma tidak menyengat atau terlalu tajam. Dimana sifat kopi sebagai penetral aroma. Lokasi yang cocok di Kab. Mamasa dan sekitarnya.
  4. Ikan asing tuing-tuing sarden. Peluangnya: ikan tuing-tuing hanya ada di Kab. Majene dan jumlahnya sangat banyak, namun pengolahannya masih secara konvensional, hanya disajikan di warung makan dengan cara dibakar atau dikeringkan. Mengapa? Tidak diolah menjadi ikan asing sarden dengan varian rasa sambalado, asin manis, sambel padang, sambel kacang, dll. Lokasi yang cocok di Kab. Mejene.
  5. Brownies sagu. Peluangnya: Tepung sagu di Mamuju begitu melimpah, namun belum dikelola sacara maksimal hanya dibuat kue kering, jepa, dan kapurung. Mengapa? Tidak diolah menjadi kue brownies khas daerah, seperti di kota-kota lain di Indonesia. Brownies pisang dan brownies daeng di Makassar, Laminton di Pontianak, Amanda di Bandung.
  6. Penja crispy. Peluangnya: ikan jenis penja hanya ada di Mamuju, dan jumlahnya sangat banyak dan tidak mengenal musim, setiap saat ada. Mengapa? Tidak diolah menjadi cemilan snack atau makanan ringan. Lokasi yang cocok di Kab. Mamuju
  7. Deppatori cake. Peluangnya: merupakan makanan khas toraja dengan cita rasa tidak membuat “ennek” dan dapat bertahan lama hingga satu bulan. Lokasi yang cocok di Mamasa.
  8. Dodol durian. Peluangnya: buah durian saat musim sangat banyak dan murah. namun setelah musim berlalu tidak dapat dinikmati lagi lezatnya raja buah tersebut. Mengapa? Tidak diolah menjadi dodol, sehingga dapat dinikmati kapan saja dan dimana saja, meskipun musim durian sudah berlalu. Lokasi yang cocok seluruh Kabupaten di Sulawesi Barat.

Selain jenis vokasi yang marketable, hal lain yang tak kalah penting, hampir tidak pernah ditemukan dalam struktur kurikulum PKW yakni, pertama, materi tentang penyuluhan keamanan pangan, sebagai syarat mutlak pengurusan sertifikat P-IRT produk pangan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau pengurusan MD di BPOM sebagai syarat untuk penjualan produk pangan ke luar negeri. Kedua, mekanisme pengurusan logo halal MUI di LPPOM MUI. Ketiga, cara packaging produk dan brand produk, Sehingga dampaknya produk pangan program PKW tidak dapat dipasarkan secara massif, pada perusahaan ritel, seperti indomart, alfamart, hypermart, carrefourt, lotte, giant atau perusahaan ritel luar negeri.

Pengelola program PKW harus mampu berpikir secara kreatif dan inovatif, jangan hanya menjadi pemain pasar konvensional, misalnya: pemasaran produk skala rumahan, toko/kios, atau kalau ada pameran yang dilaksanakan oleh pemerintah saja.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan harapannya tahun ini pengelola satuan: LKP, PKBM dan SKB mengusulkan keterampilan program PKW yang memiliki peluang usaha yang potensial dan produk pangan dapat dipasarkan secara massif. @harianto baharuddin.

Jumlah Kunjungan:467 Jumlah Kunjungan: 1 Jumlah Kunjungan: 126627

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *